By Muhammad farhan rifky afif – Mahasiswa Magister (S2) PAI Universitas Alma Ata, 2025

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter, spiritualitas, dan akhlak peserta didik. Namun, tantangan utama pembelajaran PAI di era modern bukan hanya pada penyampaian materi, melainkan bagaimana menjadikan PAI sebagai pelajaran yang disukai, dirindukan, dan bermakna bagi murid. Oleh karena itu, pengajaran PAI yang asik dan menyenangkan menjadi kebutuhan penting yang harus terus dikembangkan oleh para pendidik. 

Seringkali PAI dipersepsikan oleh murid sebagai pelajaran yang bersifat teoritis, penuh hafalan, dan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Jika kondisi ini dibiarkan, maka tujuan utama PAI yakni membentuk keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia tidak akan tercapai secara optimal. Di sinilah pendidik PAI dituntut untuk melakukan inovasi metode pengajaran, tanpa menghilangkan nilai-nilai substansi ajaran Islam.

Pengajaran PAI yang asik tidak berarti menghilangkan kesakralan nilai agama, tetapi mengemas materi agama dengan pendekatan yang humanis, kontekstual, dan partisipatif. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah contextual teaching and learning, yaitu mengaitkan materi PAI dengan realitas kehidupan murid. Misalnya, ketika membahas akhlak, guru tidak hanya menjelaskan definisi dan dalil, tetapi mengajak murid mendiskusikan kasus nyata di lingkungan sekolah, keluarga, maupun media sosial. 

Selain itu, metode diskusi dan tanya jawab terbuka sangat efektif dalam pembelajaran PAI. Murid diberi ruang untuk bertanya, berpendapat, bahkan mengungkapkan keraguan mereka terkait isu-isu keagamaan. Sikap guru yang terbuka dan tidak menghakimi akan membuat murid merasa aman secara psikologis dan lebih tertarik mendalami ajaran Islam. Dengan demikian, PAI tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang “menggurui”, tetapi sebagai ruang dialog dan pencarian makna. 

Penggunaan media pembelajaran kreatif juga dapat meningkatkan minat murid terhadap PAI. Video kisah nabi, animasi sejarah Islam, infografis hukum fikih, hingga kuis interaktif berbasis teknologi dapat membantu murid memahami materi dengan lebih mudah dan menyenangkan. Media ini berfungsi sebagai jembatan antara teks keagamaan yang bersifat abstrak dengan pemahaman konkret murid. 

Tidak kalah penting, pembelajaran PAI dapat dibuat lebih asik melalui pembelajaran berbasis proyek. Misalnya, murid diminta membuat poster kampanye akhlak mulia, video dakwah singkat, jurnal refleksi ibadah, atau proyek sosial berbasis nilai Islam. Kegiatan semacam ini tidak hanya meningkatkan kreativitas, tetapi juga menanamkan nilai agama secara aplikatif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kunci utama pengajaran PAI yang asik terletak pada keteladanan dan kepribadian guru. Guru PAI yang ramah, komunikatif, dan konsisten antara ucapan dan perbuatan akan menjadi figur yang dihormati dan dicintai murid. Ketika murid menyukai gurunya, mereka akan lebih mudah menerima dan menghayati ajaran yang disampaikan. 

Dengan pengajaran PAI yang asik, pembelajaran agama tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai kebutuhan dan pegangan hidup. Inilah momentum bagi pendidik PAI untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menghidupkan hati dan membentuk karakter Islami pada diri peserta didik.