Oleh Dr. Farida Musyrifah, M.S.I
Setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan, umat Islam di seluruh dunia menyambut datangnya Idulfitri dengan penuh kegembiraan. Namun, lebih dari sekadar perayaan, Idulfitri adalah momen penting untuk merefleksikan diri, memperbaiki kekurangan, dan meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang lebih baik. Makna mendalam inilah yang perlu kita resapi agar esensi Lebaran tidak lekang oleh waktu.
Menyucikan Diri dengan Istiqomah
Secara bahasa, Idul Fitri berarti “kembali kepada fitrah” atau kesucian jiwa. Dalam kitab tafsir al-Thabari, Idulfitri dimaknai sebagai proses penyucian diri yang menghasilkan kejernihan berpikir dan berperilaku dalam keseharian. Ini menegaskan bahwa Idulfitri bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari komitmen untuk terus istiqomah dalam kebaikan. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani mengingatkan pentingnya melanjutkan amaliah Ramadan dan meningkatkannya di bulan-bulan berikutnya sebagai wujud kesungguhan mempertahankan kesucian diri. Dengan kata lain, kualitas diri yang baik harus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan, tidak hanya saat Ramadan tiba.
Mengutip firman Allah dalam Surah Al-A’la ayat 14-15, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat,” kesucian dan kedisiplinan ibadah menjadi kunci keberuntungan hakiki bagi seorang Muslim. Peningkatan kualitas diri secara lahir dan batin inilah yang menjadi tujuan mulia dari ibadah puasa dan perayaan Idul fitri
Menumbuhkan Kedermawanan dan Jiwa Pemaaf
Tidak hanya penyucian diri secara personal, Idul fitri juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hubungan sosial. Tradisi saling memaafkan, berkunjung, dan berbagi rezeki menjadi momentum memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial. Pakar tafsir Indonesia, Prof. Quraish Shihab, dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat menegaskan bahwa hakikat Idul Fitri sangat sesuai dengan nilai-nilai maaf-memaafkan dan silaturahim. Beliau menjelaskan bahwa dengan kesucian jiwa, seseorang akan mampu memandang segala sesuatu dengan positif, menutup mata dari keburukan orang lain, dan dengan lapang dada memberi maaf.
Dengan demikian, Idulfitri adalah titik balik untuk melahirkan pribadi yang lebih berkualitas: bersih hati, disiplin, dermawan, dan pemaaf. Semoga kita semua dapat memaknai Lebaran tidak hanya sebagai euforia sesaat, tetapi sebagai langkah nyata menuju perbaikan diri yang berkelanjutan.
Daftar Referensi
- Al-Thabari, Ibnu Jarir. Tafsir al-Thabari.
- Asy-Sya’rawy, Syekh Mutawalli. Khawathiri Hauwla al-Qur’an, Juz. 2, hal. 779.
- Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat.
- Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Qur’an.
- al-Bantani, Syekh Muhammad Nawawi. Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin.
Sumber gambar: https://livetoday.id/spootlive/memaknai-kemenangan-dengan-silaturahmi-hari-raya-idul-fitri/