Istilah Empowered Women, Empowered Nation, tidak lain merupakan istilah lain dari:
الْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَدُ
“Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuan itu baik maka akan baiklah negara, dan apabila perempuan itu rusak, maka akan rusak pula negara.” Negara dibangun dari kumpulan suatu masyarat, masyarakat terbentuk dari kumpulan keluarga, keluarga terbina dari kumpulan individu, laki-laki dan perempuan. Peran penting peting perempuan begitu besar dalam memegang tongkat estafet generasi dan kemajuan peradaban selanjutnya, penyair Mesir, Hafez Ibrahim beranggapan, perempuan, ibu merupakan sekolah pertama:
الأُمُّ مَدْرَسَةُ الأُولَى، إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأَعْرَاقِ
“Ibu adalah sekolah (madrasah) pertama bagi anaknya. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan generasi (bangsa) yang baik budi pekertinya.” Melalui rahim perempuan generasi selanjutnya tumbuh, melalui rahim perempuan pendidikan dimulai. Penting bagi perempuan untuk memiliki pendidikan, keahlian, dan ketrampilan yang lebih.
Di tengah semangat pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045” yang diusung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada Peringatan Hari Ibu ke-97 tahun 2025 bukan sekadar slogan. Ini adalah panggilan aksi yang menegaskan: ketika perempuan diberdayakan, seluruh bangsa ikut maju.
Indonesia memiliki lebih dari 140 juta perempuan—hampir separuh populasi. Potensi ini luar biasa, namun masih ada kesenjangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan berada di kisaran 56,63%–56,7% pada 2025, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84%. Indeks Pembangunan Gender (IPG) terus naik mencapai 91,85 pada 2023 dan tren positif berlanjut. Sementara Indeks Ketimpangan Gender (IKG) turun menjadi 0,402 pada 2025—sinyal kemajuan meski masih perlu kerja keras.
Pemberdayaan perempuan atau mengajak turut serta perempuan dalam pembangunan bukan isu “khusus perempuan”. Ini investasi nasional. Studi global menunjukkan bahwa kesetaraan gender bisa menambah triliunan dolar bagi ekonomi dunia. Di Indonesia, partisipasi perempuan yang lebih tinggi di pasar kerja, politik, dan pendidikan akan mempercepat pengurangan kemiskinan, meningkatkan kualitas SDM, serta memperkuat ketahanan keluarga dan bangsa. Akar pemberdayaan perempuan Indonesia dimulai dari Raden Ajeng Kartini (1879–1904). Melalui surat-suratnya yang kemudian menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Kartini, 2022), Kartini melawan pingit, perkawinan dini, dan ketidakadilan gender. Ia mendirikan sekolah pertama untuk perempuan pribumi di Rembang tahun 1903—langkah revolusioner yang membuka akses pendidikan bagi ribuan gadis.
Kartini juga sosok perempuan Indonesia yang mengusulkan kepada guru-nya, Kiai Sholeh Darat, terkait penerjamahan al Qur’an. Sebelum mengutarakan kepada gurunya, ia mengungkapkan keresahan hatinya kepada sahabat penanya, Stella Zeehandelaar:
“Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghapal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”
Pasca-kemerdekaan, semangat Kartini terus hidup. UUD 1945 Pasal 27 ayat (1) menjamin kesetaraan warga negara. Era Orde Baru melahirkan program seperti Dharma Wanita dan PKK yang mendidik perempuan pedesaan. Reformasi 1998 membawa kemajuan lebih besar, yaitu lahirnya Kemen PPPA, UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT, dan ratifikasi CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women). Di era digital sekarang, perempuan Indonesia semakin kreatif. Dari pengusaha online, influencer, hingga pemimpin startup, semangat Kartini berevolusi. Namun perjuangan belum selesai—masih banyak perempuan menghadapi beban ganda, kekerasan, dan keterbatasan akses. Manfaat ekonomi, sosial, dan politik pemberdayaan perempuan membawa efek berlipat ganda. Secara ekonomi, perempuan yang berpendidikan dan bekerja meningkatkan pendapatan rumah tangga hingga 20–30%. Mari mulai dari sekarang: dukung anak perempuan bersekolah tinggi, hargai ibu dan istri yang berkarya, serta lawan diskriminasi di mana pun.
Tema empowered women, empowered nation ini diperbincangkan dalam program SKOPUS prodi Magister PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Alma Ata, Tiktok live, 17 April 2026, yang Dosen dan mahasiswa PAI, Dr. Lathifatul Izzah, S,Th.I., M.Ag, dan Lathifaturrahmah.
Referensi Utama:
Kemen PPPA & Setneg (Tema Hari Ibu 2025)
BPS (TPAK, IPG, IKG 2025)
Data DPR RI dan Komnas Perempuan
https://www.nu.or.id/tokoh/pelopor-penerjemahan-al-quramprsquoan-cZIKB
Kartini, R. A. (2022). Habis gelap terbitlah terang.