M. Mustakfibillah 251500066 (Mahasiswa S2 PAI Batch 7)
Pendidikan Agama Islam (PAI) saat ini menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya pemahaman peserta didik terhadap materi keagamaan, kurangnya pendampingan personal, serta metode pembelajaran yang cenderung klasikal dan satu arah. Salah satu metode tradisional pesantren yang relevan untuk menjawab persoalan tersebut adalah metode sorogan. Metode ini menekankan pembelajaran individual antara guru dan peserta didik, sehingga proses transfer ilmu berlangsung lebih mendalam dan efektif.
Metode sorogan merupakan sistem belajar di mana santri atau peserta didik membaca atau menyetorkan materi secara langsung di hadapan guru. Guru kemudian membenarkan, menjelaskan, dan memberikan umpan balik secara langsung. Pendekatan ini menjadikan peserta didik lebih aktif, bertanggung jawab, dan serius dalam memahami materi keislaman.
5 Alasan Metode Sorogan Menjadi Solusi Pendidikan Agama Islam
1. Pendekatan Individual
Metode sorogan memungkinkan guru memahami kemampuan setiap peserta didik secara personal, sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Sebagai contoh implementasinya, guru menjadwalkan sorogan secara bergiliran, misalnya 5–10 menit per peserta didik, untuk mengetahui kemampuan membaca Al-Qur’an atau pemahaman fikih secara personal.
2. Meningkatkan Pemahaman Materi
Koreksi langsung dari guru membuat kesalahan dapat segera diperbaiki, terutama dalam pembelajaran Al-Qur’an, fikih, dan kitab kuning. Sebagai contoh implementasinya, peserta didik diminta menjelaskan kembali isi materi setelah menyetor bacaan, lalu guru meluruskan kesalahan makna dan konsep secara langsung.
3. Menumbukan Disiplin dan Tanggung Jawab
Peserta didik dituntut mempersiapkan materi sebelum maju sorogan, sehingga membentuk karakter disiplin dan kesungguhan belajar. Sebagai contoh implementasinya, peserta didik hanya diperbolehkan maju sorogan setelah menyiapkan materi di rumah atau asrama, sehingga terbentuk kebiasaan belajar mandiri.
4. Efektif Mengatasi Keterbatasan Kelas Besar
Di tengah keterbatasan waktu dan jumlah peserta didik yang banyak, sorogan menjadi solusi untuk memastikan setiap individu tetap mendapatkan perhatian. Sebagai contoh implementasinya, sorogan diterapkan sebagai kegiatan tambahan di luar jam klasikal, seperti setelah salat atau sesi khusus pekanan untuk pendalaman materi.
5. Selaras dengan Nilai Pendidikan Islam
Metode ini selaras dengan prinsip ta‘lim, tarbiyah, dan ta’dib yang menekankan keteladanan, kesabaran, dan keberkahan ilmu. Sebagai contoh implementasinya, guru tidak hanya mengoreksi bacaan, tetapi juga menanamkan adab belajar, niat menuntut ilmu, dan keteladanan melalui sikap sabar dan tawaduk.
Dengan keunggulan tersebut, metode sorogan sangat relevan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah, madrasah, maupun pesantren. Inovasi pendidikan modern tidak selalu harus meninggalkan metode klasik, justru penguatan metode tradisional seperti sorogan dapat menjadi jawaban atas problematika pendidikan Islam kontemporer.