Pernahkah Anda scrolling media sosial lalu mendadak merasa menjadi orang paling malang di dunia? Di layar ponsel, hidup orang lain tampak linier dan sempurna: karier melejit, jabatan mentereng, pernikahan estetis, dan liburan tanpa jeda. Sementara hidup kita? Penuh dengan belokan tajam, terkadang zig-zag, seolah tak berujung hingga menguras batas kesabaran, yang sering kali tidak sesuai dengan proposal doa yang kita ajukan.

Meminjam pernyataan seorang sosiolog Zygmunt Bauman (1925 – 2017) yang menyebut era digital ini sebagai liquid modernity (modernitas cair) yang menggambarkan kondisi zaman modern di mana perubahan terjadi secara konstan, bersifat sementara dan minimnya komitmen. Teknologi dan informasi berganti setiap detik. Hubungan sosial, pencapaian bahkan kebahagiaan berpotensi sangat rapuh dan cair, memicu kecemasan konstan (FOMO dan insecurity). Media sosial memajang etalase kesuksesan, memaksa otak kita melakukan social comparison theory (Leon Festinger) secara tidak sadar. Efeknya? Kita gagal menerima realitas diri dan mulai mempertanyakan keadilan takdir. Jika seseorang tidak mampu menyikapinya dengan baik berpotensi bermasalah pada komitmen diri, cenderung hidup dalam ketidakpastian dan lebih menyukai hal-hal yang instan daripada ikatan jangka panjang.

Wajar, jika salah satu doa yang pernah diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

“Ya Allah … aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasa’i no. 5536, dan Ibnu Majah no. 3837. Hadits ini shahih.)

Doa tersebut menunjukkan pentingnya kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala akan empat hal. Pertama, Ilmu yang tidak bermanfaat (’ilmin la yanfa’). Di era banjir informasi (information overload), kita tahu banyak hal tentang kehidupan orang lain melalui update status mereka, tetapi pengetahuan itu tidak membuat kita bijak, melainkan memicu penyakit hati dan kedengkian. Memanfaatkan perkembangan teknologi yang pesat ini untuk meningkatkan ilmu, sarana menebar kebaikan dan ikhtiar sharing pengetahuan. Kedua, hati yang tidak tenang (qalbin la yakhsya’): Distraksi digital yang tiada henti memecah fokus (attention span) manusia modern. Hati yang kehilangan kekhusyukan adalah hati yang kehilangan ketenangan (thuma’ninah) karena selalu gelisah memikirkan penilaian manusia di dunia maya. Ketiga, Jiwa yang tidak pernah merasa puas (nafsin la tasyba’): Ini adalah potret sempurna dari budaya konsumen (consumerism) dan hedonic treadmill yang diamplifikasi oleh algoritma media sosial. Kita selalu merasa kurang karena standar kecukupan didikte oleh kemewahan artifisial orang lain. Keempat, doa yang tidak didengar (du’a’in la yusma’): Ketika seseorang berdoa dengan hati yang dipenuhi ambisi duniawi yang keliru dan ketidakpuasan, ia kehilangan esensi ibadah dalam doa itu sendiri.

Doa ini mengisyaratkan instrumen regulasi diri tertinggi. Manusia yang cerdas secara pedagogis dan spiritual. Taujih tarbawy lainnya kita belajar dari firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Qs. Al-Hadid: 22-23:

مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ فِى الۡاَرۡضِ وَلَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اِلَّا فِىۡ كِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡـرَاَهَا ؕ اِنَّ ذٰ لِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيۡرٌۚ  ۖ‏ ٢٢

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍ ٢٣

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim menerangkan bahwa kesadaran akan takdir berfungsi agar manusia paham bahwa apa yang digariskan untuknya tidak akan meleset, dan apa yang luput memang bukan miliknya. Sementara dalam perspektif kontemporer, Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa ayat ini diturunkan agar manusia tidak terombang-ambing oleh gemerlap dan kepalsuan duniawi. Di era digital, tafsir kontemporer ini bertransformasi menjadi coping mechanism (mekanisme pertahanan jiwa) terbaik untuk memisahkan antara domain ikhtiar dan domain takdir.

Inspirasi dari penafsiran kedua ayat tersebut menegaskan bahwa setiap ketetapan (qadar) di bumi dan pada diri manusia telah tertulis di lauhul mahfuzh sebelum diwujudkan, “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” Artinya, perlu membangun keseimbangan diri, tetap tenang dalam segala situasi, cepat beradaptasi terhadap perkembangan kemajuan serta menjaga konsistensi dalam keimanan dan menjadi pribadi yang terus berbuat kebaikan dan menebar kebermanfaatan.

Secara akademis, kedua ayat ini bukan doktrin fatalisme pasif. Dalam perspektif Psikologi Islam, ini adalah bentuk coping mechanism (mekanisme pertahanan jiwa) tertinggi. Ayat ini melatih kita memisahkan antara domain ikhtiar (wilayah yang bisa kita kontrol) dan domain takdir (wilayah otoritas mutlak Tuhan). Ketika menyadari bahwa hasil akhir bukan di tangan kita, beban mental untuk selalu tampil sempurna di mata manusia seketika runtuh.

Merujuk pada teori Self-Regulated Learning oleh Barry Zimmerman, kedewasaan spiritual ini mirip dengan regulasi diri. Manusia yang cerdas secara pedagogis dan spiritual tidak akan membiarkan stimulus eksternal (seperti jumlah likes atau pencapaian orang lain) mendikte respons internalnya (kebahagiaan dan rasa syukur). Mereka mampu mengedukasi hatinya untuk ber-tawakal.

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Hadis ini adalah cetak biru untuk mencapai apa yang disebut Carol Dweck sebagai growth mindset spiritual: melihat setiap ketetapan Tuhan, seburuk apa pun kelihatannya, sebagai ruang bertumbuh, bukan akhir dari segalanya. Bijaklah dalam bermedsos, jadikan media sosial dan berbagai kemajuan teknologi sebagai wasilah -perantara- untuk kebahagiaan dan kemajuan peradaban bukan sebagai ghayah -tujuan- dalam menjalani tugas manusia sebagai khalifah di bumi.

)* dikembangkan dari berbagai sumber