Zulfa Zaidatul Munawaroh (mahasiswa S2 PAI)
Ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat keberadaan. Dalam Pendidikan Islam, ontologi menjawab pertanyaan: “Apa hakikat manusia, ilmu, dan realitas yang menjadi tujuan pendidikan?”¹ Jawaban atas pertanyaan ini menjadi fondasi agar pendidikan tidak sekadar transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter.
- Hakikat Manusia
Ontologi Pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk dwidimensi: jasmani dan ruhani. Manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh dan ‘abdullah sekaligus². Al-Ghazali menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat empat potensi dasar yaitu nafsu, amarah, syaitan, dan akal. Tugas pendidikan adalah menguatkan akal dan hati agar mampu mengendalikan tiga potensi lainnya³.
Berbeda dengan pandangan sekuler yang melihat manusia sebagai homo economicus, Pendidikan Islam menegaskan bahwa pusat orientasi manusia adalah tauhid. Karena itu output pendidikan bukan hanya siswa yang cerdas kognitif, tetapi juga memiliki ketaatan, keikhlasan, dan akhlak⁴.
- Hakikat Ilmu dan Realitas
Sumber ilmu dalam Islam bersumber dari dua hal yaitu wahyu dan akal⁵. Realitas juga dibagi menjadi dua: alam syahadah yang dapat diindra dan alam ghaib yang harus diimani. Konsekuensinya, kurikulum Pendidikan Islam tidak boleh dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum. Semua ilmu berasal dari Allah yang Maha Mengetahui Al-‘Alim⁶.
Ibnu Sina dan Al-Farabi menyebut ilmu tertinggi adalah ma’rifatullah. Karena itu setiap materi pelajaran, termasuk Asmaul Husna di SD, harus dihubungkan dengan pengenalan sifat-sifat Allah agar bermakna ibadah⁷
- Implikasi terhadap Tujuan Pendidikan
Jika hakikat manusia adalah khalifah dan hakikat ilmu dari Allah, maka tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk insan kamil⁸. Ciri insan kamil adalah seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Pendidikan juga bertujuan menciptakan keseimbangan dunia-akhirat serta menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian dan kemaslahatan umat⁹.
Dalam konteks SD, ontologi ini berarti pembiasaan seperti membaca Asmaul Husna bukan hanya kegiatan rutin, tetapi proses menanamkan pemahaman bahwa Allah Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-‘Adl harus tercermin dalam perilaku siswa sehari-hari.
Penutup
Ontologi Pendidikan Islam menegaskan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sesuai fitrahnya. Kegagalan memahami ontologi akan melahirkan lulusan yang pintar tetapi kosong spiritual. Oleh karena itu guru PAI perlu menyadari bahwa setiap pembiasaan memiliki muatan ontologis: mengembalikan manusia kepada Tuhannya.
Daftar Pustaka
- Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), 45.
- S. M. N. Al-Attas, The Concept of Education in Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1991), 23.
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, jilid 3 (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2005), 112.
- H. W. D. Satuti, B. A. Saputro, dan A. S. Pramadyahsari, “Penguatan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Membaca Asma’ul Husna di Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Tambusai 7, no. 2 (2023): 8360. doi.org
- Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2013), 78.
- A. Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami (Bandung: Rosdakarya, 2008), 56.
- M. Mundzir, “Tradisi Pembacaan Asma’ Al-Husna di Masjid I’tikaf, Pedurungan Kidul, Semarang (Studi Living Hadis),” TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin 18, no. 2 (2020): 233. doi.org
- Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam, 89.
- T. S. Hartandi et al., “Pengembangan Aplikasi Android “NURKIDS” tentang Asmaul Husna pada Pembelajaran PAI di kelas IV SD,” Jurnal Pendidikan Tambusai 8, no. 1 (2024): 15701. doi.org